Harga Kakao        Jumat,  24/09/2021                      Ldn: n.a                              NY: 2.612              Medan: n.a                 Aceh: Rp. 32.600             Info ini disampaikan oleh FORUM KAKAO ACEH      

 

Pahit Manis Irwan Ibrahim Membangun Jenama Socolatte dari Kakao Berkualitas Pidie Jaya

Created on Wednesday, 02 June 2021

Aceh terkenal dengan sumber daya alamnya yang melimpah. Selain kopi, Aceh juga dikenal sebagai daerah penghasil kakao. Namun, selama ini kakao yang ada di Aceh umumnya dijual sebagai bahan baku mentah, berbeda dengan kopi yang sudah diolah menjadi bubuk kopi sehingga memiliki nilai lebih. Salah satu daerah penghasil kakao berkualitas di Aceh adalah Kabupaten Pidie Jaya. Menariknya, biji-biji kakao pilihan yang di sini diolah menjadi beraneka produk turunan lainnya seperti bubuk cokelat maupun cokelat batang yang siap santap. Cokelat-cokelat itu diproduksi dan dipasarkan dengan jenama Socolatte dan dijual sebagai hidangan utama di kafe dengan nama yang sama.

Meskipun Aceh dikenal sebagai negeri seribu warung kopi, tetapi cokelat tetap memiliki tempat di hati penikmatnya, mulai anak-anak hingga orang dewasa. Itulah kenapa Kafe Socolatte yang ada di Kabupaten Pidie Jaya tak pernah sepi pengunjung. Di tengah banyaknya warung kopi, Kafe Socolatte menjadi salah satu pilihan bagi pengunjung untuk mampir saat melintasi kabupaten tersebut. Socolatte menjadi satu-satunya brand produk cokelat di Aceh.

Pemilik Socolatte, Irwan, mengatakan brand ini merupakan perpaduan dari bahasa Aceh so yang artinya “siapa” dan bahasa Inggris chocolatte yang artinya “cokelat”. “Jadi, socolatte artinya cokelat siapa, ya, cokelat Aceh,” kata Irwan saat berbincang dengan penulis beberapa waktu lalu.

Lokasi kafe Socolatte ini berada di Jalan Banda Aceh Medan Km 136, Desa Baroh Musa, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Posisinya terletak persis di sisi jalan nasional sehingga mudah ditemukan. Pemilik usaha ini bernama lengkap Irwan Ibrahim, biasa dipanggil Pak Wan. Ia mengisahkan, mulai merintis usahanya sejak 2003, yakni usaha yang bergerak di bidang pengolahan makanan yang berbahan baku utama biji kakao hingga menghasilkan produk siap saji.

Untuk dapat memberikan nilai tambah bagi para petani kakao di daerahnya, Irwan mulai berpikir untuk mengolah biji kakao menjadi berbagai macam produk olahan yang disukai masyarakat sehingga dapat meningkatkan pendapatan. Saat memulai usaha pengolahan cokelat ini, awal mulanya dia hanya dibantu oleh lima karyawan dan modal awal sebesar Rp35 juta serta beberapa peralatan dan pengolahan yang sederhana.

“Bahan baku langsung dari para petani di Pidie Jaya, saya mencoba olah dengan mesin. Awalnya hanya bubuk cokelat untuk diminum. Proses pengolahannya dimulai dari biji kakao pilihan dan biji kakao fermentasi yang di tanam, dipetik, dan diolah langsung di tanah Aceh.”

Irwan menjelaskan, di awal-awal produksi dia sempat menghadapi berbagai tantangan di antaranya melawan kebiasaan di Aceh yang mayoritas adalah penikmat kopi. Kondisi ini membuat usahanya banyak dikritik oleh masyarakat setempat. Namun, kritikan itu membuat dia semangat untuk memperkenalkan berbagai olahan cokelat tanpa kenal lelah dengan mempromosikan berbagai manfaat cokelat bagi kesehatan. Selama empat bulan pertama merintis usahanya, Irwan bingung mau memasarkan produknya ke mana sehingga berdampak pada kesejahteraan karyawannya. Saat itu belum banyak yang mengenal produk Socolatte sehingga angka penjualan masih sangat minim.

Bencana tsunami Aceh yang terjadi pada Desember 2004, memberikan hikmah tersendiri bagi Irwan. Dengan masuknya bantuan dari luar negeri berupa permodalan dan pemberdayaan ke daerah Aceh, dia juga kecipratan bantuan.

“Walaupun sempat mengalami jatuh bangun dalam memasarkan produk, pada tahun 2004 usaha pengolahan Socolatte mendapat bantuan OISCA Jepang berupa modal sebesar Rp65 juta, beserta peralatan pengolahan dan dengan bantuan teknis tenaga ahli pengolahan kakao dari Jepang,” ujar Irwan.

Irwan juga mengatakan dengan adanya program pemerintah dan donor asing telah digulirkan ke daerah Aceh untuk mengembangkan petani kakao, sehingga lahirlah cikal bakal karya besar produk-produk cokelat yang memiliki cita rasa dan aroma khas cokelat Aceh asli.

Usahanya pun semakin berkembang, Irwan mulai memperbanyak produknya. Selain bubuk cokelat, ada juga permen cokelat, cokelat batang, brownies, dan timphan cokelat. Meskipun timphan adalah kue khas Aceh yang diolah dengan memakai tepung dan berbungkus daun pisang, tetapi di Kafe Socolatte timphan cokelat tidak dilapisi dengan daun.

Harga yang ditawarkan untuk menu-menu di Socolatte juga bervariasi. Untuk minuman cokelat panas dan dingin mulai harga Rp13-25 ribu, sedangkan untuk cokelat batangan antara Rp8-35 ribu per batang atau per pak. Sementara harga timphan dan brownies cokelat dengan harga Rp4-5 ribu. Harga-harga ini masih relatif terjangkau. Saat ini, Kafe Socolatte mampu mengolah satu ton lebih kakao per bulan.

”Dahulu tidak seramai seperti sekarang, sampai tiga tahun pertama baru lumayan ramai setelah banyak diketahui oleh masyarakat, sehingga sampai saat ini Kafe Socolatte terus ramai dikarenakan selalu konsisten dalam produknya dan selalu beramal atau sedekah,” katanya.

Sebenarnya kata Irwan, banyak pesanan dari luar Aceh ingin mencoba produknya. Namun, Socolatte tidak dapat memenuhi permintaan karena mesin pengolahannya terbatas. “Sehingga produksinya juga terbatas. Kalau Lebaran biasanya permintaannya bisa naik tiga kali lipat,” ujar Irwan.

Irwan juga menjelaskan, pabrik pengolahan cokelat ini dibangun dengan memiliki ruang penyimpanan bahan mentah, ruang pengolahan, dan ruang pengemasan. Saat ini karyawan Irwan sudah mencapao 46 orang dan semuanya orang Aceh. Irwan juga terpikir untuk memperluas Socolatte ini dengan membuka cabang, tetapi masih belum tahu itu kapan. Dia berharap keinginannya terwujud sehingga masyarakat Indonesia bisa mengenal produk lokal dalam negeri yang berkualitas. Bahkan tidak dalam negeri saja, tetapi juga konsumen luar negeri, untuk memperkenalkan produk Indonesia ini juga mempunyai rasa yang khas dan unik.

Irwan mengatakan, dirinya percaya bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil, jangan pernah takut untuk mencoba berwirausaha, kalau gagal bangkit lagi . Itulah yang membuatnya merasa tidak pernah lelah memasarkan produknya sejak awal merintis usaha.

“Apalagi saat ini sudah banyak media sosial yang membuat kita lebih mudah memasarkan produk,” ujar Irwan optimistis.

Dari pengalaman dan kerja keras Irwan, dapat dilihat bahwa sumber daya alam yang diolah dapat bermanfaat menjadi produk kuliner khas daerah, dengan adanya usaha ini sangat membantu pemerintah dengan membuka lapangan pekerjaan. Oleh karena itu, pemerintah juga harus mendukung usaha tersebut dengan memberikan bantuan perlengkapan yang dibutuhkan para pelaku usaha kecil dan menengah. Bagi daerah lain, juga harus menjadi inspirasi untuk mengolah sumber daya alam di daerah masing-masing menjadi suatu produk yang bisa menggerakkan perekonomian masyarakat. Pemerintah juga perlu ikut berperan dalam menyejahterakan usaha-usaha msyarakat yang membutuhkan bantuan dalam memasarkan produknya.[]



Sumber : 

https://www.acehtrend.com/2021/04/08/pahit-manis-irwan-ibrahim-membangun-jenama-socolatte-dari-kakao-berkualitas-pidie-jaya/

 

Copyright © 2011 Forum Kakao Aceh - All Right Reserved