Harga Kakao         Rabu,  12/05/2021                   Ldn: n.a                              NY: 2.501                Medan: n.a                 Aceh: Rp 29.100,-                                 Selamat Idul Fitri 1442 H  Mohon Maaf Lahir dan Batin       Info ini disampaikan oleh FORUM KAKAO ACEH      

 

Produksi Kakao di Pidie Menurun

Created on Monday, 21 September 2020

SIGLI - Gangguan hama dan gajah liar yang masih terus terjadi menyebabkan produksi kakao di Pidie, menurun dratis. Menurut data dari Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Pidie, saat ini petani di kabupaten itu hanya memperoleh kakao 581 kilogram (Kg) per hektare (Ha) per tahun. Padahal, sebelumnya mereka bisa mendapatkan hasil yang ideal yaitu sebanyak 800-900 Kg per hektare per tahun.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Pidie, Ir Sofyan, melalui Kabid Perkebunan, Saiful Bahri SP MSi, kepada Serambi, Minggu (6/9/2020) mengatakan, rendahnya produksi kakao yang sudah lama menghasilkan membuat petani di Pidie hanya mengandalkan tanaman yang baru berproduksi. "Kalau secara nasional, idealnya panen kakao sebanyak 1,2 ton per hektare per tahun," ungkap Saiful Bahri.

Dari total luas kebun kakao 10.382 hektare, sebutnya, tanaman kakao yang tidak berproduksi lagi seluas 2.437 hektare, rusak 1.704 hektare, dan menghasilkan 6.241 hektare. Adapun tanaman kakao yang rusak akibat gangguan gajah liar hanya sekitar 500 hektare yang masih berproduksi.


Menurut Saiful, penanganan gangguan gajah menjadi kendala bagi pihaknya. Sebab, tambahnya, sejak lahir undang-undang otonomi daerah, penanganan gajah liar sudah menjadi kewenangan Pemerintah Aceh. Sehingga, kabupaten/kota tidak bisa menangani satwa dilindungi itu karena tak boleh mengalokasikan anggaran untuk kegiatan tersebut.

"Masyarakat tidak paham aturan. Seperti di Keumala yang merupakan kecamatan paling banyak tanaman kakao rusak akibat gangguan gajah, warga minta marcon. Tapi, kita tak punya anggaran. Ekses amukan gajah, petani mulai stagnan dalam mengelola tanaman kakaonya," ungkap Saiful.

Selain itu, tambahnya, tanaman kakao juga diserang hama--seperti hama penggerak buah, busuk buah, dan penggerek batang--saat hujan turun dengan intensitas tinggi. Saat ini, lanjut Saiful, ada 12 kecamatan yang menjadi daerah penghasil kakao di Pidie. Ke-12 kecamatan itu dalah Glumpang Tiga, Padang Tiji, Mutiara Timur, Tiro, Mila, Keumala, Sakti, Padang Tiji, Muara Tiga (Laweung), Tangse, Mane, dan Geumpang. Perkebunan kakao terluas di Padang Tiji dan Glumpang Tiga, sedangkan Muara Tiga yang paling kecil.

"Kakao dari Pidie dipasarkan ke Medan (Sumatera Utara). Sekarang harga kakao Rp 24 ribu hingga 25 ribu per kilogram," jelasnya. Ia menambahkan, tahun ini Pemkab menganggarkan Rp 1,2 miliar dari dana Otsus dengan sasaran program rehab tanaman kakao dan pembinaan sekolah lapang. “Sekolah lapangan itu maksudnya petani dilatih cara merawat kakao. Kegiatan itu belum dimulai, mungkin bulan ini," jelasnya.

Petani Beralih Tanam Kemiri

Pada bagian lain, Kabid Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan (Ditanpang) Pidie, Saiful Bahri SP MSi, kepada Serambi, Minggu (6/9/2020), mengungkapkan, akibat menurunnya produksi, petani kakao di kabupaten itu harus beralih menanam kemiri, lantaran buah tersebut tidak disukai oleh gajah.

Selain itu, tambah Saiful, tanaman kemiri mudah dibudidayakan mengingat komuditi tersebut tumbuh di kawasan dengan curah hujan sedang seperti Kecamatan Muara Tiga, Padang Tiji, dan Mila. Petani mulai menanam kemiri, tapi belum begitu banyak. "Untuk harga kemiri sekarang Rp 5.000 per kilogram, cukup menjanjikan. Sebab, perawatannya sangat mudah. Saya rasa cara menghidupkan kembali sektor perkebunan adalah menghindari gangguan gajah," pungkas Saiful Bahri. (naz)

Sumber : https://aceh.tribunnews.com/2020/09/07/produksi-kakao-di-pidie-menurun

Copyright © 2011 Forum Kakao Aceh - All Right Reserved